Rabu, 19 Februari 2014

Makalah Probiotik Minuman


PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Saluran pencernaan ibarat pabrik kecil dalam tubuh manusia, mengolah makanan bekerja non stop setiap hari. Mulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus kecil dan usus besar dilalui oleh makanan yang dikonsumsi, termasuk di dalamnya  bakteri jahat atau baik.
Jumlah bakteri jahat dalam saluran pencernaan bisa lebih banyak dari bakteri baiknya, ini yang membuat saluran pencernaan tidak sehat, dan tubuh mudah sakit. Setelah makanan dicerna di lambung, makanan yang sudah berwujud sari-sari ini masuk kedalam usus halus. Penyerapan maksimal terhadap sari-sari makanan terjadi di usus halus, fili-fili pada usus halus bekerja menyerap sari-sari makanan yang masuk. Di dalam usus ini juga terdapat sejumlah besar limfosit, karena itu, usus halus disebut sebagai organ kekebalan tubuh terbesar.
Jumlah bakteri jahat yang banyak di dalam usus biasanya menyebabkan penyakit diare. Penyakit yang dianggap biasa ini banyak terjadi pada anak-anak, karena biasanya bersumber dari tidak higienisnya makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak tersebut.


TINJAUAN PUSTAKA

A.   Sejarah Probiotik
Para ahli Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mendefinisikan probiotik sebagai “mikroorganisme hidup yang bila diberikan dalam jumlah memadai akan menyehatkan tuan rumahnya”. Mereka membantu pencernaan makanan, membatasi bakteri merugikan dan merangsang kekebalan tubuh.
Pada akhir abad ke-19, para ahli mikrobiologi menemukan bahwa orang sehat memiliki mikroba yang berbeda dengan orang sakit. Mereka kemudian menamakan mikroba yang baik “probiotik” (arti harfiahnya “untuk kehidupan”).
Metchnikoff mungkin adalah peneliti pertama yang mengembangbiakkan mikroba bermanfaat dari susu fermentasi. Dia meyakini bahwa bakteri asam laktat dapat memperpanjang umur dan meminum susu asam setiap hari untuk membuktikannya. Dia meninggal dunia di tahun 1916 dalam usia 71 tahun, jauh melampaui usia rata-rata waktu itu.
Penelitian Metchnikoff menginspirasi ilmuwan Jepang Shirota untuk memulai riset tentang hubungan bakteri usus dengan kesehatan. Meyakini bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh jumlah bakteri baik yang hidup dalam ususnya, Shirota dengan tekun meneliti berbagai jenis flora mikroba usus. Pada tahun 1935, dia berhasil mengembangkan bakteri khusus yang hidup dalam susu fermentasi. Saat ini jenis bakteri tersebut hadir di salah satu minuman kesehatan paling penting di dunia, Yakult, yang resepnya hampir tidak berubah sejak ditemukan oleh Shirota.
Sejak itu, banyak peneliti meneruskan pekerjaan Shirota untuk mempelajari efek kesehatan dari probiotik. Penelitian tersebut semakin intens dalam 20 tahun terakhir.

B.   Cara kerja pencernaan
Untuk memahami bagaimana probiotik menguntungkan kita, pemahaman mengenai sistem pencernaan akan membantu. Saluran pencernaan Anda berisi ekosistem mikroba yang beragam dan kompleks. Anda adalah tuan rumah bagi lebih dari 500 jenis bakteri usus yang memiliki cara hidup dan perilaku berbeda-beda. Mereka memiliki potensi untuk bertindak positif, negatif atau netral.
Jumlah dan jenis bakteri bervariasi tergantung lokasinya di saluran pencernaan. Pada individu sehat, bagian atas dari usus kecil dan lambung mengandung sedikit mikroba karena aksi bakterisida asam lambung. Berbeda dengan usus kecil, usus besar adalah “markas PBB”-nya bakteri. Di antara kedua ekstrim itu terdapat zona transisi yang berisi bakteri dalam jumlah moderat.
Proses pencernaan dimulai segera setelah makanan masuk mulut. Pengunyahan memperluas permukaan partikel makanan yang membuatnya lebih mudah diurai menjadi partikel-partikel lebih kecil oleh enzim air ludah. Di dalam perut, makanan bercampur dengan cairan lambung yang mengandung enzim pencernaan dan asam klorida. Campuran ini, yang disebut cairan lambung, menghancurkan makanan yang kemudian dipompa keluar dari lambung menuju usus kecil. Di sana, enzim lain dan empedu dicampur dengan cairan lambung untuk melanjutkan proses pencernaan dengan mengurai lemak, protein dan karbohidrat. Beberapa karbohidrat tidak tercerna oleh enzim dan akan lolos ke usus besar, namun sebagian besar nutrisi terserap di usus kecil.
Dalam waktu sekitar 4-6 jam setelah makan, apa yang tersisa dari makanan akan melewati usus besar. Usus besar memiliki jumlah bakteri terbesar (hingga 100 triliun) dari berbagai jenis. Bagian atas usus besar melakukan fermentasi karbohidrat. Kotoran sisa pencernaan dikeluarkan melalui dubur setiap 24-48 jam.

C.   Mekanisme kerja probiotik
Probiotik bermanfaat bagi kesehatan melalui salah satu proses berikut:
1.    Persaingan untuk nutrisi. Untuk tumbuh dan berkembang biak, bakteri usus yang baik menggunakan nutrisi yang sama dengan bakteri patogen. Konsumsi probiotik membantu membatasi perkembangan bakteri patogen.
2.    Persaingan untuk perlekatan. Kemampuan bakteri untuk melekat di dinding usus merupakan elemen penting dalam perkembang-biakannya. Di sini sekali lagi persaingan terjadi antara bakteri baik dan buruk. Salah satu fungsi penting bakteri probiotik adalah mencegah atau membatasi pertumbuhan bakteri patogen potensial (e. coli, salmonella, dll) pada dinding usus. Bakteri-bakteri buruk itu dapat mengganggu pencernaan, menghambat penyerapan nutrisi, dan menyebabkan diare atau muntah. Dalam populasi mikroflora usus yang seimbang, dominasi bakteri baik mengurangi risiko tersebut.
3.    Merangsang kekebalan. Dengan mengoptimalkan keseimbangan mikroflora usus, probiotik memelihara dan merangsang imunitas tubuh. Bila dikonsumsi secara teratur, mereka membantu Anda mengurangi risiko berbagai penyakit.
4.    Memperbaiki pencernaan. Probiotik memproduksi enzim seperti polisakarida karbohidrat yang membantu mengurai makanan. Dengan demikian, usus kecil lebih mudah menyerap nutrisi yang terurai dari makanan. Mikroflora di usus besar juga mendukung proses sintesis vitamin.

D.   Probiotik Minuman
Probiotik adalah mikroorganisme hidup “baik” yang secara alamiah terdapat di dalam sistem pencernaan, (disebut juga dengan flora normal,) atau mikroorganisme baik yang sengaja dikembangbiakkan sebagai suplemen makanan/minuman yang apabila dikonsumsi dalam jumlah seimbang akan memberikan dampak positif bagi kesehatan.
Mikroorganisme ini bisa berupa bakteri, ragi atau mikrofungi. Pada umumnya probiotik yang dikonsumsi masyarakat adalah bakteri, misalnya dari keluarga Lactobacillus, Bifidobacterium dan Enterococcus, dalam bentuk minuman fermentasi seperti yoghurt dan makanan fermentasi seperti acar dan asinan, atau dari hasil industri bioteknologi, yang diaplikasikan ke dalam suplemen berbentuk padat atau cair.
Probiotik berfungsi untuk menjaga keseimbangan mikroesosistem dalam sistem pencernaan, membantu proses pencernaan, berperan positif dalam sistem immun dan menetralkan atau menghilangkan racun. Gaya hidup yang tidak sehat, tidak memperhatikan kebersihan makanan atau minuman, stress dan konsumsi antibiotik yang berlebihan adalah faktor-faktor yang dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme dalam sistem pencernaan.
Istilah Probiotik diperkenalkan kepada masyarakat umum melalui industri suplemen makanan/minuman, padahal sebenarnya kita sudah memperoleh bakteri baik tersebut semenjak kita dilahirkan, yang diwariskan oleh orangtua kita melalui saluran kelahiran. Mikroorganisme baik ini biasanya tidak diperoleh bayi yang dilahirkan melalui bedah cesar, inilah salah satu faktor penyebab mengapa bayi cesar cenderung memiliki alergi, sistem imun yang tidak optimal dan jumlah mikroorganisme flora normal yang rendah.
Konsumsi suplemen Probiotik secara seimbang dapat membantu mengembalikan dan menjaga keseimbangan mikroekosistem tersebut, mencegah diare, mencegah produksi gas yang berlebihan (masuk angin) dan melancarkan proses pencernaan.

E. Keuntungan minuman probiotik
1.    Setiap harinya, tubuh memerlukan minimal 6,5 miliar bakteri baik seperti Lactobacillus casei atau L.casei untuk menekan bakteri jahat penyebab penyakit.
2.    L.casei terdapat juga di minuman probiotik. Minuman ini hasil fermentasi susu tanpa lemak yang bertujuan memerbanyak L.casei, ditambah dengan dektrosa, serta air berkualitas bagus.
3.    Minuman probiotik dapat dijadikan MP ASI atau dessert kepada bayi berusia enam bulan ke atas. Berikan minuman tersebut secukupnya.
4.    Simpan minuman probiotik pada suhu lemari es, sekitar 4 derajat Celcius untuk menjaga L.casei tetap optimal, begitu pula sebaliknya. L.casei berkualitas dapat memerintahkan tubuh siaga terhadap virus, bakteri, jamur yang hinggap ke tubuh.
5.    Minuman probiotik dapat diolah dengan buah untuk jus atau ice blended. Tetapi tidak disarankan dimasak dengan api. Karena akan merusak kandungan bakteri baiknya.
Probiotik seringkali direkomendasikan oleh dokter, dan, lebih sering lagi, oleh ahli nutrisi, setelah pengkonsumsian antibiotik, atau sebagai bagian dari pengobatan candidiasis. Banyak probiotik disediakan dalam sumber alaminya seperti Lactobacillus pada yoghurt dan sauerkraut. Beberapa mengklaim probiotik mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Beberapa produk fermentasi mengandung asam laktat bakteri yang mirip walaupun sering belum dibuktikan memiliki efek probiotik atau kesehatan termasuk: Kefir, Yogurt, Sauerkraut, Kimchi, Kombucha dan Dadiah : susu fermentasi dari Minangkabau
  
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan Konsumsi suplemen Probiotik secara seimbang dapat membantu mengembalikan dan menjaga keseimbangan mikroekosistem tersebut, mencegah diare, mencegah produksi gas yang berlebihan (masuk angin) dan melancarkan proses pencernaan.


Farmakokinetik obat

Farmakokinetik Obat adalah proses perjalanan obat yang berlangsung di dalam tubuh manusia mulai dari masuknya obat ke dalam tubuh hingga hilangnya obat dari dalam tubuh, Farmakokinetik obat mencangkup absorpsi obat, distribusi obat, metabolisme obat (biotransformasi obat) dan ekskresi obat. 
  1. Absorpsi dan Bioavailabilitas
Kedua istilah tersebut tidak sama artinya. Absorpsi, yang merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian, menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses tersebut. Kelengkapan dinyatakan dalam persen dari jumlah obat yang diberikan. Tetapi secara klinik, yang lebih penting ialah bioavailabilitas. Istilah ini menyatakan jumlah obat, dalam persen terhadap dosis, yang mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif. Ini terjadi karena untuk obat-obat tertentu, tidak semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sestemik. Sebagaian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding ususpada pemberian oral dan/atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ-organ tersebut. Metabolisme ini disebut metabolisme atau eliminasi lintas pertama (first pass metabolism or elimination) atau eliminasi prasistemik. Obat demikian mempunyai bioavailabilitas oral yang tidak begitu tinggi meskipun absorpsi oralnya mungkin hampir sempurna. Jadi istilah bioavailabilitas menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus metabolisme obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Eliminasi lintas pertama ini dapat dihindari atau dikurangi dengan cara pemberian parenteral (misalnya lidokain), sublingual (misalnya nitrogliserin), rektal, atau memberikannya bersama makanan.
2.    Distribusi
Setelah diabsorpsi, obat akan didistribusi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat fisikokimianya. Distribusi obat dibedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik misalnya jantung, hati, ginjal, dan otak.
Selanjutnya, distribusi fase kedua jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organ di atas misalnya otot, visera, kulit, dan jaringan lemak. Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu yang lebih lama. Difusi ke ruang interstisial jaringan terjadi karena celah antarsel endotel kapiler mampu melewatkan semua molekul obat bebas, kecuali di otak. Obat yang mudah larut dalam lemak akan melintasi membran sel dan terdistribusi ke dalam otak, sedangkan obat yang tidak larut dalam lemak akan sulit menembus membran sel sehingga distribusinya Terbatas terurama di cairan ekstrasel. Distribusi juga dibatasi oleh ikatan obat pada protein plasma, hanya obat bebas yang dapat berdifusi dan mencapai keseimbangan. Derajat ikatan obat dengan protein plasma ditentukan oleh afinitas obat terhadap protein, kadar obat, dan kadar proteinnya sendiri. Pengikatan obat oleh protein akan berkurang pada malnutrisi berat karena adanya defisiensi protein.
3.     Biotransformasi / Metabolisme
Biotransformasi atau metabolisme obat ialah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalis oleh enzim.  Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar, artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih mudah diekskresi melalui ginjal. Selain itu, pada umumnya obat menjadi inaktif, sehingga biotransformasi sangat berperan dalam mengakhiri kerja obat. Tetapi, ada obat yang metabolitnya sama aktif, lebih aktif, atau tidak toksik. Ada obat yang merupakan calon obat (prodrug) justru diaktifkan oleh enzim biotransformasi ini. Metabolit aktif akan mengalami biotransformasi lebih lanjut dan/atau diekskresi sehingga kerjanya berakhir.
Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dapat dibedakan berdasarkan letaknya dalam sel, yakni enzim mikrosom yang terdapat dalam retikulum endoplasma halus (yang pada isolasi in vitro membentuk mikrosom), dan enzim non-mikrosom. Kedua macam enzim metabolisme ini terutama terdapat dalam sel hati, tetapi juga terdapat di sel jaringan lain misalnya ginjal, paru, epitel, saluran cerna, dan plasma.
4.     Ekskresi
Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar diekskresi lebih cepat daripada obat larut lemak, kecuali pada ekskresi melalui paru. Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting. Ekskresi disini merupakan resultante dari 3 preoses, yakni filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubuli proksimal, dan rearbsorpsi pasif di tubuli proksimal dan distal.
Ekskresi obat melalui ginjal menurun pada gangguan fungsi ginjal sehingga dosis perlu diturunkan atau intercal pemberian diperpanjang. Bersihan kreatinin dapat dijadikan patokan dalam menyesuaikan dosis atau interval pemberian obat. Ekskresi obat juga terjadi melalui keringat, liur, air mata, air susu, danrambut, tetapi dalam jumlah yang relatif kecil sekali sehingga tidak berarti dalam pengakhiran efek obat. Liur dapat digunakan sebagai pengganti darah untuk menentukan kadar obat tertentu. Rambut pun dapat digunakan untuk menemukan logam toksik, misalnya arsen, pada kedokteran forensik.