KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah matakuliah Kultur Jaringan Tumbuhan Obat dengan Judul “Faktor-Faktor Lingkungan Yang Berpengaruh Dalam Kultur Jaringan Tumbuhan Obat”
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak
bantuan dari teman-teman pembuatan makalah ini. Dari sanalah semua kesuksesan
ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun
pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini
bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat
lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini
bermanfaat bagi semua pembaca.
Makassar, April 2013
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Kultur
jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur
jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian
tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut
dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh
dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat
memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari
teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian
vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman,
khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif.
Bibit
yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara
lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam
jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu
menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan
mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan
dengan perbanyakan konvensional. Media merupakan faktor penentu dalam
perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung
dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya
terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga
bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon)
yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung
dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi
ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga
harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf. Teknik kultur jaringan
sangat sederhana, yaitu suatu sel atau irisan jaringan tanaman yang sering
disebut eksplan secara aseptik diletakkan dan dipelihara dalam medium pada atau
cair yang cocok dan dalam keadaan steril. dengan cara demikian sebaian sel pada
permukaan irisan tersebut akan mengalami proliferasi dan membentuk kalus.
Apabila kalus yang terbentuk dipindahkan kedlam medium diferensiasi yang cocok,
maka akan terbentuk tanaman kecil yang lengkap dan disebut planlet. Dengan
teknik kultur jaringan ini hanya dari satu irisan kecil suatu jaringan tanaman
dapat dihasilkan kalus yang dapat menjadi planlet dalam jumlah yang besar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Faktor-faktor Lingkungan
yang berpengaruh dalam kultur jaringan tumbuhan obat.
a.
Keasaman pH
Keasaman pH adalah nilai
derazat keasaman atau kebasaan dari larutan dalam air. Keasaman (pH) suatu
larutan menyatakan kadar dari ion H dalam larutan. Nilai di dalam pH berkisar
antara 0 (sangat asam) sampai 14 (sangat basa), sedangkan titk netral adalah pH
pada 7.
Sel-sel tanaman yang
dikembangkan dengan teknik kultur jaringan mempunyai toleransi pH yang relatif
sempit dengan titik optimal antara pH 5,0-6,0. Bila eksplan mulai
tumbuh, pH dalam lingkungan kultur jaringan tanaman umumnya akan naik apabila
nutrein habis terpakai.
Pengukuran pH dapat
dilakukan dengan menggunakan pH meter, atau bila menginginkan yang lebih
praktis dan murah dapat digunakan kertas pH. Bila ternyata pH medium masih
kurang normal, maka dapat ditambah KOH 1-2 tetes. Sedangkan apabila pH
melampaui batas normal dinetralkan dengan penambahan HCL.
b.
Kelembaban
Kelembaban relatif dalam
botol kultur dengan mulut botol yang ditutup umumnya cukup tinggi, yaitu
berkisar antara 80 - 99%. Jika mulut botol ditutup agak longgar maka kelembaban
relatif dalam botol kultur dapat lebih rendah dari 80%. Sedangkan kelembaban
relatif di ruang kultur umumnya adalah sekitar 70%. Jika kelembaban relatif
ruang kultur berada dibawah 70% maka akan mengakibatkan media dalam botol
kultur (yang tidak tertutup rapat) akan cepat menguap dan kering sehingga
eksplan dan plantlet yang dikulturkan akan cepat kehabisan media. Namun
kelembaban udara dalam botol kultur yang terlalu tinggi menyebabkan tanaman
tumbuh abnormal yaitu daun lemah, mudah patah, tanaman kecil-kecil namun
terlampau sukulen. Kondisi tanaman demikian disebut "vitrifikasi"
atau "hiperhidrocity". Sub-kultur ke media lain atau menempatkan
planlet kecil ini dalam botol dengan tutup yang agak longgar, tutup dengan
filter, atau menempatkan silica gel dalam botol kultur dapat membantu mengatasi
masalah ini.
Kelembapan relatif (RH)
lingkungan biasanya mendekati 100%. RH sekeliling kultur mempengaruhi pola
pengembangan. Jadi, pengaturan RH pada keadaan tertentu memerlukan suatu bentuk diferensiasi Khusus.
c.
Cahaya
Seperti halnya pertumbuhan
tanaman dalam kondisi in-vivo, kuantitas dan kualitas cahaya, yaitu intensitas,
lama penyinaran dan panjang gelombang cahaya mempengaruhi pertumbuhan eksplan
dalam kultur in-vitro. Pertumbuhan organ atau jaringan tanaman dalam kultur
in-vitro umumnya tidak dihambat oleh cahaya, namun pertumbuhan kalus umumnya
dihambat oleh cahaya.
Pada perbanyakan tanaman
secara in-vitro, kultur umumnya diinkubasikan pada ruang penyimpanan dengan
penyinaran. Tunas-tunas umumnya dirangsang pertumbuhannya dengan penyinaran,
kecuali pada teknik perbanyakan yang diawali dengan pertumbuhan kalus. Sumber
cahaya pada ruang kultur ini umumnya adalah lampu flourescent (TL). Hal ini
disebabkan karena lampu TL menghasilkan cahaya warna putih, selain itu sinar
lampu TL tidak meningkatkan suhu ruang kultur secara drastis (hanya meningkat
sedikit). Intensitas cahaya yang digunakan pada ruang kultur umumnya jauh lebih
rendah (1/10) dari intensitas cahaya yang dibutuhkan tanaman dalam keadaan
normal. Intensitas cahaya dalam ruang kultur untuk pertumbuhan tunas umumnya
berkisar antara 600 - 1000 lux . Perkecambahan dan inisiasi akar umumnya
dilakukan pada intensitas cahaya lebih rendah.
Selain intensitas cahaya,
lama penyinaran atau photoperiodisitas juga mempengaruhi pertumbuhan eksplan
yang dikulturkan. Lama penyinaran umumnya diatur sesuai dengan kebutuhan
tanaman sesuai dengan kondisi alamiahnya. Periode terang dan gelap umumnya
diatur pada kisaran 8 - 16 jam terang dan 16 - 8 jam gelap tergantung varietas
tanaman dan eksplan yang dikulturkan. Periode siang/malam (terang/gelap) ini
diatur secara otomatis menggunakan timer yang ditempatkan pada skaklar lampu
pada ruang kultur. Dengan teknik ini penyinaran dapat diatur konstan sesuai
kebutuhan tanaman. Intensitas cahaya yang rendah dapat mempertinggi embriogenesis dan organogenesis.
Cahaya ultra violet dapat mendorong pertumbuhan dan pembentukan tunas dari
kalus tembakau pada intesitas yang rendah.
d.
Temperatur
Tanaman umumnya tumbuh pada
lingkungan dengan suhu yang tidak sama setiap saat, misalnya pada siang dan
malam hari tanaman mengalami kondisi dengan perbedaan suhu yang cukup besar.
Keadaan demikian bisa dilakukan dalam kultur in vitro dengan mengatur suhu siang
dan malam di ruang kultur, namun laboratorium kultur jaringan selama ini
mengatur suhu ruang kultur yang konstant baik pada siang maupun malam hari.
Umumnya temperatur yang digunakan dalam kultur in vitro lebih tinggi dari
kondisi suhu in vivo. Tujuannya adalah untuk mempercepat pertumbuhan dan
morfogenesis eksplan.
Pada sebagian besar
laboratorium, suhu yang digunakan adalah konstan, yaitu 25°C (kisaran suhu 17 -
32°C). Tanaman tropis umumnya dikulturkan pada suhu yang sedikit lebih tinggi
dari tanaman empat musim, yaitu 27°C (kisaran suhu 24 - 32°C). Bila suhu siang
dan malam diatur berbeda, maka perbedaannya umumnya adalah 4 - 8°C, variasi
yang biasa dilakukan adalah 25°C siang dan 20(C malam, atau 28(C siang dan 24(C
malam. Meskipun hampir semua tanaman dapat tumbuh pada kisaran suhu tersebut,
namun kebutuhan suhu untuk masing-masing jenis tanaman umumnya berbeda-beda.
Tanaman dapat tumbuh dengan baik pada suhu optimumnya. Pada suhu ruang kultur
dibawah optimum, pertumbuhan eksplan lebih lambat, namun pada suhu diatas
optimum pertumbuhan tanaman juga terhambat abibat tingginya laju respirasi
eksplan.
Temperatur yang dibutuhkan
untuk dapat terjadi pertumbuhan yang optimum umumnya berkisar di antara 200-300C.
Sedangkan temperatur yang optimum untuk pertumbuhan kalus endosperm adalah
sekitas 250C.
BAB III
PENUTUP
Perbanyakan tumbuhan atau perbanyakan bibit tumbuhan
secara besar-besaran kadang–kadang sangat diperlukan. Namun perbanyakan
tumbuhan dengan teknik konvensional seringkali menghadapi kendala teknis,
lingkungan maupun waktu. Sebagai contoh perbanyakan tanaman dengan menggunakan
biji memerlukan waktu yang relatif lama dan seringkali hasilnya tidak seperti
tanaman induknya. Kendala lain yang juga sering muncul adalah gangguan alam, baik
yang disebabkan oleh jasad hidup, misalnya hama dan penyakit maupun cekaman
lingkungan yang dapat menggangu keberhasilan perbanyakan tanaman di lapangan.
Sejalan dengan makin berkembangnya ilmu pengetahuan terutama bidang teknologi,
kendala-kendala tersebut dapat diatasi antara lain melalui teknik kultur
jaringan.
Dalam hal tersebut maka
kita harus memperhatikan factor-faktor yang mempengaruhi kultur jaringan
tumbuhan obat, salah satu faktornya adalah factor lingkungan. Factor lingkungan
meliputi:
1.
Keasaman pH
2.
Kelembapan
3.
Cahaya
4.
Temperatur
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Tanpa tahun. Pengertian
Kultur Jaringan. Diakses dari :
Anonim. Tanpa tahun. Perbanyakan
Tanaman Dengan Kultur Jaringan. Diakses dari: http://www.ideelok.com/budidaya-tanaman/
Anonim, Faktor-faktor yang
mempengaruhi kultur jaringan. Diakses dari: http://rifki-nurwahyu.blogspot.com/2012/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-kultur.html
Anonim,. Faktor-faktor Penentu
keberhasilan kultur jaringan. Diakses dari : http://kultur-jaringan.blogspot.com/2009/08/faktor-faktor-penentu-keberhasilan.html
Anonim. Kultur Jaringan
Tanaman. Diakses Dari: http://catataneca.
blogspot.com/2012/03/kultur-jaringan-tanaman.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar