|
GEOLOGIS
Pada zaman Pleistochen, daratan pulau Ternate masih
merupakan satu daratan dengan pulau-pulau seperti; Morotai, Halmahera,
Hiri, Maitara, Tidore, Mare,
Moti, Makian, Kayoa, Bacan dan
sebagainya yang terletak pada rankaian gunung berapi Zone Maluku Utara.
Deretan pulau-pulau ini berada di sepanjang pantai barat pulau Halmahera di
Propinsi Maluku Utara.
Perubahan alam yang terjadi selama ratusan-ribu tahun dan
pergeseran kulit bumi secara evolusi telah membentuk pulau-pulau kecil di
sepanjang “Jazirah tuil Jabal Mulku“, (Istilah yang sering
dipergunakan oleh Buya Hamka). Halmahera adalah merupakan Pulau
Induk dari di kawasan ini, yang menjadi dataran tertua, selain pulau Seram di
Maluku Tengah. (sumber; B. Soelarto, Sekelumit Monografi Daerah
Ternate, Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Depdikbud, Jakarta).
Dilihat dari sudut geologis, seperti disinggung di atas, pulau Ternate merupakan salah satu dari deretan pulau yang memiliki gunung berapi, dari barisan garis : ”strato vulkano active at south pacific” yang melintang di kawasan Asia timur ke Asia tenggara, dari utara ke selatan. Salah satu yang masih aktif di kepulauan Maluku Utara adalah gunung “Gamalama” di pulau Ternate dengan ketinggian 1.730 m. (bangsa Portugis menyebut dengan; Nostra Senora del Rozario).
Erupsi
dari letusan gunung berapi Gamalama yang paling hebat pernah terjadi pada
tahun 1608, 1635, 1653, 1840 dan 1862. Letusan terhebat yang tercatat terjadi
pada pertengahan abad ke-18, tepatnya pada tanggal 10 Maret 1737
yang bertepatan dengan 22 Dzulkaidah 1149.H yang mengakibatkan
aliran lahar dari puncak hingga mencapai laut yang dikenal sekarang dengan “Batu
Angus”. (sumber; F.S.A. de Clerq, Bijdragen tot de Kennis der
Residentie van Ternate, Leiden, 1890).
Dalam jangka waktu kurang 400 tahun lebih (1538 – 1962) telah terjadi 1164 kali erupsi larva. Letusan yang mengakibatkan kepanikan dan dan pengungsian masyarakat Ternate moderen adalah pertama kali sejak tahun 1962, yaitu pada tanggal 4 September 1980 yang dialami sendiri oleh penulis yang ketika itu masih sebagai pelajar kelas 5 di salah satu Sekolah Dasar di pulau Ternate.
GEOGRAFIS
Secara astronomis,
pulau Ternate terletak pada 127,17 Bujur Timur – 127,23 Bujur Timur dan 0,44
Bujur Timur – 0,51 Bujur Timur. Secara Topografis Pulau Ternate
berbentuk bulat kerucut (strato volcano) yang luas diagonal pulau dari
arah utara ke selatan, sepanjang 13 km dan dari arah barat ke timur sepanjang
11 km, dengan panjang keliling pulau adalah 55 km , yang terdiri dari dataran
rendah dan lereng. Ciri topografis sebahagian besar datarannya adalah wilayah
bergunung dan daerah berbukit, terdiri dari pulau vulkanis dan pulau karang
dengan kondisi jenis tanah :
• Rogusal : pulau Ternate, pulau Hiri dan pulau Moti • Rensikal : pulau Mayau, pulau Tifure, pulau Makka, pulau Mano dan pulau Gurida
Secara Yuridis,
berdasarkan Undang-Undang No.11 tahun 1999, tanggal 27 April 1999 status Kota
Ternate dari Kota Administratif (Kotip) ditingkatkan dan menjadi
Kotamadya. Luas seluruh wilayah Kotamadya Ternate adalah 5.681,30 Km2,
terdiri dari;
- Wilayah
Perairan : 5.457,55 Km2
- Wilayah Daratan : 133,74 Km2, yang mencakup 8 buah pulau, yaitu : • Pulau Ternate : 92,12 Km2 • Pulau Hiri : 7,31 Km2 • Pulau Moti : 17,72 Km2 • Pulau Mayau : 8,5 Km2 • Pulau Tifure : 7 Km2 • Pulau Makka : 0,5 Km2, tidak berpenghuni • Pulau Mano : 0,05 Km2, tidak berpenghuni • Pulau Gurida : 0,55 Km2, tidak berpenghuni - Jarak antara pulau • Ternate – Hiri : 1,5 mil laut • Ternate – Moti : 11 mil laut • Ternate – Mayau : 90 mil laut • Ternate – Tifure : 106 mil laut • Ternate – Makka : 1,6 mil laut • Ternate – Mano : 1,6 mil laut • Ternate – Gurida : 106,1 mil laut
Pulau-pulau
dalam wilayah Kotamadya Ternate terletak dalam lingkup kawasan pantai barat
Halmahera, melalui kepulauan Filipina, Sangihe Talaud dan Minahasa yang
dilingkupi lengkung Sulawsi bagian utara. Kotamadya Ternate berbatasan dengan
:
Sebelah utara dengan Samudera Pasifik dan perairan Filipina • Sebelah selatan dan barat dengan Laut Maluku • Sebelah timur dengan pantai barat Halmahera
Secara Ekonomis,
Kedudukan kota Ternate adalah sebagai pusat pemerintahan dan pusat
perdagangan yang sangat strategis dan penting sekali di kawasan ini. Di Kota
Ternate terdapat Pelabuhan Samudera “Ahmad Yani” dan Bandar Udara “Babullah”.
Kota Ternate itu sendiri berlokasi di pesisir timur pulau Ternate menghadap
pulau Halmahera posisi ini sangat potensial. Kedudukan yang demikian ini
menyebabkan kota Ternate memiliki peranan yang sangat penting dalam ekonomi perdagangan
lintas Halmahera.
Selain
itu, letak pulau Ternate adalah dekat dengan kota Manado ibukota Propinsi
Sulawesi Utara. Posisi strategis yang berhadapan dengan kawasan Dodinga,
sebuah persimpangan jalan di pulau Halmahera yang menyebabkan kota ini berkembang
dalam lajur perdagangan di daerah Maluku Utara.
GENEALOGIS
Sebagaimana
dipaparkan di atas, ada pendapat yang mengatakan bahwa pada zaman
pleistochen, setelah dataran Morotai, Ternate, Tidore, Makian, Bacan, Kayoa
dan sebagainya terlepas dengan dataran Halmahera dan membentuk pulau-pulau
kecil, sebagaimana adanya sekarang, maka telah terjadi pula migrasi penduduk
pada zaman itu yang semula berdiam di dataran pedalaman ke kawasan pantai.
Hal itu dilakukan untuk menghindari bencana alam yang diakibatkan oleh
gerakan gunung berapi dan pergeseran kerak kulit bumi yang berlangsung secara
evolusi.
Pendapat
ini dilandasi argumentasi antropologi budaya, yaitu bahwa antara penduduk
pedalaman dan masyarakat di pulau-pulau, memiliki adat istiadat yang hampir
sama. Perkiraan lain adalah bahwa penduduk pribumi masyarakat di Halmahera
dan Maluku Utara pada umumnya masih satu rumpun dengan bangsa Proto Melayu
dan Netro Melayu yang sampai kini masih dapat ditelusuri jejak asal usulnya.
Tapi yang jelas, Ternate dari sepanjang Halmahera, yang membentang dari utara
hingga ke selatan tidak berada dalam garis perjalanan migrasi masyarakat
purbakala di nusantara yang datang melewati, Cina Selatan (Tonkin),
melalui Phinipina terus ke Sulawesi Utara.
MASA
Pra-ISLAM
Sejarah Ternate
pada masa pra-Islam masih belum dapat dijelaskan secara panjang lebar,
kecuali dalam aspek adat-istiadat dan kepercayaan yang hingga kini masih
dihayati oleh sebahagian masyarakat Ternate, yang dapat kita jadikan petunjuk
yang meyakinkan bahwa semasa pra-Islam, Ternate telah mempunyai sejarah
sendiri. Peninggalan Ternate pada zaman pra-Islam tidak ditemukan dalam
bentuk tulisan maupun artevak.
Seperti
yang sudah dijelaskan pada artikel-artikel sebelumnya bahwa belum agama Islam
masuk, di Ternate telah terdapat 4 kelompok masyarakat, yaitu ;
1. Tubo,
(yang mendiami kawasan puncak/lereng sebelah utara pTernate)
2. Tobona, (yang mendiami kawasan lereng sebelah selatan di Foramadiyahi). 3. Tabanga, (yang mendarat kawasan pantai bagian utara) dan 4. Toboleu. (yang menempati kawasan pesisir pantai timur di Ternate)
Masyarakat
Ternate yang sejak dahulu sejak dari Raja pertama Kolano Cico alias Masyhur
Malamo (1257) hingga Sultan yang ke-48 sekarang ini Sri Sultan Mudaffar
Syah-II, telah mengalami perjalanan panjang yang merupakan mata rantai
kelangsungan sebuah komunitas yang tentunya dikikis dan dipoles oleh jaman
yang dilaluinya hingga saat ini Ternate menjadi pusat pemerintahan Propinsi
Maluku Utara.
PERAN
KESULTANAN
Setiap
pembahasan mengenai sejarah daerah Maluku Utara “the history of
Moluccas” pada umumnya berkisar pada sejarah kesultanan yang pernah
berkuasa di daerah ini. Sejarah telah mencatat, bahwa telah lama ada, empat
kesultanan yang dikenal dengan “Moloku Kiye Raha” yang terdiri dari; ”Kiye
Bessi, Tuanane, Duko, se Gapi”.
Kiye Bessi kemudian bergeser ke Kasiruta di Bacan, Tuanane kemudian bergeser
ke Halmahera di Jailolo, Duko adalah Tidore dan Gapi adalah Ternate.
Keempat
kerajaan tersebut kemudian dikenal dengan; Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore,
Kesultanan Jailolo dan Kesultanan Bacan. (urutan menurut Naidah yang
ditulis P. van der Crab, “Geschiedenis van Ternate, in Ternataanschen
en Maleischen text beschreven door den Ternataan Naidah”, Koninklijk
Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde, The Hague, 1878).
Sumber-sumber
asing lain-pun menyebutkan adanya keempat kesultanan tersebut, Portugis
misalnya memberikan urutan yang sama, yang merupakan petunjuk bahwa, bahan
sumber data dan informasi banyak diperoleh dari pihak Ternate, yang mana orang
Portugis pertama kali mengadakan hubungan.
Tentu
saja sumber-sumber dari luar Ternate akan memberikan urutan yang lain pula.
Sebagai contoh misalnya, Francoise Valentijn (“Oud en Neew Oost
Indien” S. Keijzer, Amsterdam, 1862), memberikan urutan kesultanan
Jailolo pada urutan perrtama, kemudian beralih ke pihak Ternate, Tidore dan
Bacan.
Sedangkan
menurut kronik kesultanan Bacan, jelaslah bahwa kesultanan Bacan menduduki
tempat pertama berdasdarkan klaim bahwa Raja Bacan pertama adalah putra tertua
dari Jaffar Saddik, dengan urutannya; Bacan, Jailolo, Tidore dan Ternate.
Bagaimanapun urutannya, yang lebih terpenting adalah bahwa semua sumber
tersebut menyebutkan nama yang sama.
Besarnya
pengaruh Globalisasi serta minimnya bahan-bahan dan tulisan tentang sejarah
daerah Maluku Utara, mengakibatkan generasi muda masa kini, apatis terhadap
pelestarian nilai-nilai sejarah dan budaya daerahnya sendiri. Dan lebih
disayangkan lagi adalah semakin tajamnya egoisme primordial ke-suku-an antar
masing-masing etnis yang ada di Maluku Utara dalam percaturan di bidang
politik praktis tingkat lokal, memberikan efek negatif terhadap pelestarian
nilai sejarah, adat dan tradisi dari masing-masing kelompok etnik.
LEMBAGA
KEAGAMAAN
Semua
lembaga dan jabatan yang diuraikan penulis pada pembahasan di atas disebut
dengan “Bobato Dunia“. Bobato dunia adalah semua lembaga dan
jabatan yang berhubungan dengan urusan ke-dunia-wian, yang bersifat politik,
ekonomi, sosial-budaya dan pertahanan-keamanan dan sebagainya. Sedangkan lembaga
atau jabatan yang mengurus masalah keagamaan disebut dengan “Bobato
Akhirat“.
Dari
segi spirituil dan urusan keagamaan ditangani oleh suatu lembaga yang disebut
dengan Jou Lebe (Badan Syari’ah). Lembaga ini dikepalai oleh
seorang yang menjabat sebagai Kadhi. Anggotanya terdiri dari para Imam,
Khatib dan para staf pelaksana. Para pejabat di bidang keagamaan terdiri dari
:
1. Kadhi
atau Kalem yaitu pejabat tertinggi dalam urusan keagamaan (Imam
Agung), membawahi 4 orang Imam Besar Kesultanan, (ditambah Imam Jawa)
yang terdiri dari :
• Imam Jiko • Imam Jawa • Imam Sangaji • Imam Moti • Imam Bangsa 2. Jabatan lainnya adalah para Khatib yaitu pejabat pelaksanan dakwah dan siar Islam dibawah Imam, terdapat 6 jabatan khatib dalam struktur kesultanan. Tiap khatib membawahi beberapa orang Modim (Muazzim). Keenam orang khatib tersebut, terdiri dari : • Khatib Jiko • Khatib Jawa • Khatib Sangaji • Khatib Moti • Khatib bangsa • Khatib Jurutulis
Dari
para Imam dan khatib, serta para JOGURU (Kiyai dalam bahasa Jawa)
inilah siar dan dakwah agama Islam ditegakkan ke seluruh pesisir jazirah
Maluku Utara, sehingga saat ini hampir semua pesisir pulau-pulau di kawasan
Maluku Utara, Sulawesi Utara, Pantai Timur pulau Sulawesi, Seram Barat,
Kailolo, Hingga kepala burung pulau Papua (Fak-Fak dsb) tersentuh
akidah dan ajaran agama Islam.
Masyarakat
Ternate tidak mengenal sistem “Pesantren” seperti halnya di Jawa. Cara
pengajaran tradisional dengan Sistem Pesantren mulai diterapkan di Ternate
pertamakali sekitar awal tahun 1980-an yakni dengan berdirinya pesantren
pertama di Tidore.
Pendidikan
Formal keagamaan pertamakali berdiri di Ternate pada tahun 1930-an dengan
berdirinya Sekolah Madrasah Islamiyah di Ternate. Sekolah Raudatul
Adab yang baru itu diasuh oleh seorang pendidik yang berasal dari pulau Ambon
yang masih berdarah arab yaitu : Almarhum Syech Bachmid. Dua sekolah
yang didirikan tersebut masing-masing setingkap dengan SD dan SMP. Kemudian
berdiri pula Taman Pendidikan Muhammadiyah yang dipelopori oleh Bongso
Hi Bahdar.
STRUKTUR
KEPEMIMPINAN
Tiap
kelompok masyarakat pada zaman pra-Islam di Ternate mendiami suatu tempat
tinggal, yang mereka sebut dengan istilah Gam (Kampung),
warganya terdiri dari beberapa keluarga/kerabat yang dalam istilah daerah
disebut dengan sebutan Soa (Marga) yang dipimpin oleh seorang Fanyira,
singkatan dari kata ‘Ngofa ma-nyira’. (Baca artikel terkait; Stratifikasi
Sosial Masyarakat Adat di Ternate).
Selanjutnya
masing-masing kepala Soa dipimpin oleh seorang Momole (Kepala
Kampung) yang bergelar; Kimelaha, Fanyira dan Sangadji. Disamping sebutan
untuk seorang kepala Soa untuk tiap-tiap Soa, kata momole terambil dari kata
“Tomole“ yang mempunyai arti; Kesaktian atau Kehebatan, yakni orang
yang menjadi pemimpin karena mempunyai kelebihan dan kesaktian dalam berbagai
hal.
Kelompok
masyarakat waktu itu masih menjalankan kepercayaan primitif, dan
kadang-kadang sering terjadi pertentangan dan saling bermusuhan dalam hal
memperebutkan hegemoni. Dengan demikian maka, di Ternate pada zaman pra-Islam
terdapat 4 orang Momole. Seorang Momole diangkat berdasarkan kharisma yang
ada padanya. Setelah masuknya agama Islam, maka sistem pemerintahan Momole
berubah. Keempat Momole tersebut, bergabung dan dipimpin oleh seorang Kolano.
Pada masa awal sistem ini, struktur kepemimpinan masih sangat sederhana.
Bersamaan
dengan masuk dan berkembangnya agama Islam di Ternate, maka berkembang pula
sistem pemerintahan Kolano, seperti juga di Tidore, Bacan dan Jailolo.
Ke-empat Kolano ini kemudian membentuk konfederasi persekutuan antara empat
kerajaan tersebut di Taunane Pulau Moti (Moti Verbond), yang kemudian
dikenal dengan sebutan persatuan “Moloku Kie Raha”. Ternate waktu itu
dipimpin oleh Kolano ke-7, yang bernama Kolano Sida Arif-ma-Lamo.
Sida
Arif ma-Lamo ditunjuk sebagai “Kolano Ma-Dopolo” yang pemimpin
persekutuan ini. Dinobatkan sebagai Kolano Ternate tahun 1322 dan memerintah
selama 9 tahun (1322-1331). Dalam sistem ini, struktur kepemimpinannya lebih
disempurnakan. (F.S.A. de Clerq).
Pada
perkembangannya selanjutnya , sejak tahun 1486, disaat penobatan Kolano
ke-19, Zainal Abidin, yang pertama kali memakai gelar “SULTAN” yang
memerintah dari tahun 1486 – 1500, adalah merupakan masa peralihan dari
bentuk Kolano ke bentuk Kesultanan. Beliau diberi gelar ; Paduka Sri
Sultan Zainal Abidin.
Dalam
struktur kepemimpinan kesultanan, dibentuk lembaga-lembaga tradisional.
Pelaksanaan tugasnya, Sultan dibantu oleh badan-badan dan pejabat seperti :
1. KOMISI
NGARUHA, (fungsinya disamakan dengan Dewan Pertimbangan Agung).
2. BOBATO
MA-DOPOLO, yaitu suatu Dewan Pembantu Sultan, anggotanya terdiri :
a. Jogugu, sebagai wakil Sultan merangkap kepala Bobato. Jogugu adalah singkatan dari ‘Jou Kolano ma-gugu’ yaitu wakil Sultan bidang Pemerintahan , yang berkuasa dan bertanggung jawab atas seluruh kebijakan kesultanan tertinggi dibawah Sultan, yang dijabat oleh bangsawan Senior di kalangan kerabat keluarga terdekat Sultan. (disamakan dengan Perdana Menteri). b. Kapita Lao, yang bertanggung jawab dalam masalah yang bertalian dengan peperangan, yang dijabat oleh bangsawan Senior di kalangan kerabat Sultan. (disamakan dengan Panglima Armada Laut). c. Hukum Soa Sio, adalah seorang pejabat yang bertanggung jawab dan menangani hal-hal yang berhubungan dengan urusan di dalam negeri. (disamakan dengan Menteri Dalam Negeri). d. Hukum Sangadji, adalah seorang pejabat yang bertanggung jawab dan menangani masalah-masalah luar negeri termasuk daerah takluk-kan. (disamakan dengan Menteri Luar Negeri). e. Tuli Lamo, sebagai juru tulis kesultanan, (disamakan dengan Menteri Sekretaris Negara).
3. BOBATO
NYAGI MOI SE-TUFKANGE, yaitu Dewan 18 yang anggotanya terdiri dari
delapan belas Orang. Mereka terdiri dari :
a. Berasal dari Soa-Sio sebanyak 9 orang, yaitu : 1) Pejabat berpangkat Kimelaha, sebanyak 5 orang. 2) Pejabat berpangkat Fanyira, sebanyak 4 orang. b. Berasal dari Pejabat berpangkat Sangaji, sebanyak 9 orang, yang merupakan wakil utusan dari wilayah seberang.
Dalam
struktur kepemimpinan tradisional di kesultanan Ternate, terdapat semacam
Dewan Rakyat, yang disebut dengan GAM RAHA, yang wakilnya terdiri dari
pejabat perwakilan keempat wilayah yang terdiri dari :
1. SOA-SIO,
(Komunitas masyarakat yang terdiri dari 9 kelompok Soa/distrik yang berada
di di wilayah pusat Kesultanan).
2. SANGADJI, (Komunitas beberapa distrik di negeri seberang/wilayah taklukkan). 3. HEKU, (Komunitas masyarakat Ternate yang wilayahnya mulai dari Ake Santosa (sekarang Kelurahan Salero) ke utara hingga ke pulau Hiri termasuk Halmahera muka). 4. CIM, (Komunitas masyarakat dari Ake Santosa ke salatan hingga mencapai batas desa Kalumata).
Gam Raha
berfungsi mensahkan calon sultan yang menurut tradisi ditunjuk dari anak
lelaki putera sultan, (bukan putra tertua saja tapi bisa adik-laki2-nya).
Meskipun telah ditetapkan adat, calon Sultan itu harus disahkan oleh Gam
Raha. Calon diajukan oleh pihak Soa-Sio dan Sangaji, selanjutnya apabila
calon tersebut ditolak oleh pihak Heku dan Cim, maka harus diganti. Sistem
ini merupakan keunikan dan cirri khas “Demokrasi” ala Ternate, dimana
sistem pemerintahan adalah berbentuk Monarki tetapi pewaris kekuasaan
dilakukan melalui pemilihan/penunjukan dari “Gam Raha” berdasarkan
kriteria tertentu. Tidak seperti biasanya setiap kerajaan, putera tertua dari
Raja dan Permaisuri mutlak harus menjadi pewaris takhta.
Pejabat
penting lainnya yang dalam kepemimpinan wilayah adalah seorang Salahakan.
Pejabat ini adalah merupakan perwakilan Sultan di daerah-daerah otonomi yang
jauh. Dalam sejarah Ternate, pernah diangkat Salahakan di Tabukan (Sangir
Talaud), Banggai (Sulawesi), Sula Taliabu. Selain Salahakan
dikenal juga Utusan Sultan yang dikirim ke perbatasan untuk menangani
soal keamanan. Ia juga bertugas sebagai koordinator para sangaji di daerah
itu.
Diketahui
pernah ada tiga utusan yang pernah ditetapkan dalam kesultanan Ternate,
yaitu; Utusan Kayoa yang berbatasan dengan kesultanan Bacan, Utusan Galela
untuk mengamankan perbatasan dengan kesultanan Mindanao-Sulu, Utusan Dodinga
untuk mengawasi perbatasan wilayah darat dengan kesultanan Tidore di daratan
pulau Halmahera.
SEJARAH
PEMERINTAHAN
Dalam
sejarah kepemimpinan/pemerintahan di Ternate, selain dipimpin oleh para
Kolano/Sultan sebanyak 48 orang Raja Ternate, masyarakat Ternate
pernah diperintah oleh pejabat penguasa asing yang berkedudukan di Ternate,
tercatat sebanyak 20 orang pejabat Gubernur Portugis (1512-1574), 7
orang pejabat sebagai Residen perwakilan Inggris di Ternate (1797-1815), 53
orang pejabat Gubernur VOC untuk wilayah Maluku yang berkedudukan di
Ternate, dan lebih dari 28 orang pejabat Residen Pemerintah Kerajaan
Belanda yang juga berkedudukan di Ternate. (Sumber; F.S.A. de Clerq).
Kronologis Pemimpin Pemerintahan di Ternate selama 7 Abad lebih diuraikan pada artikel sesudah ini.
Perjalanan
panjang sejarah masyarakat Ternate yang hingga kini telah berusia 758 tahun
melalui dinamika dengan begitu banyaknya proses asimilasi budaya dan campur
tangan kekuasaan dari luar terutama bangsa Eropa selain para Sultannya
mengakibatkan kebudayan masyarakat Ternate memiliki ciri khasnya tersendiri.
Kedatangan
orang Eropa ke berbagai tempat di belahan bumi ini membawa tiga Misi
utamanya, yaitu ; “Gold”, “Gospel” dan “Glory”. Warisan
yang paling nyata hingga saat ini adalah pada kawasan tertentu di Maluku
Utara masih terdapat pemeluk agama Nasarani sebagai bukti adanya Gospel
yang didengungkan bangsa Eropa waktu itu, sedangkan kehadiran Islam di daerah
ini juga sebagai akibat adanya hubungan dengan para pedagang dari bangsa Arab
dan Persia maupun dari Gujarat.
Dinamika
yang dialami masyarakat Ternate hingga generasi sekarang melalui proses yang
panjang. Para pendahulu di daerah ini telah meletakan dasar, baik itu
menyangkut keyakinan beragama, maupun sendi-sendi moral dan etika serta
perilaku yang tercermin dalam adat-istiadat, tradisi dan budaya yakni tersirat
dalam institusi dan pranata sosial di masyarakat Ternate. Sebagai generasi
saat ini, wajarlah kalau memiliki minat dan keinginan di bidang kajian
sejarah, karena lebih banyak manfaat yang didapat daripada tidak
mengetahuinya sama sekali. (Baca artikel tentang kajian dimaksud pada posting
sebelumnya; Sejarah Tidak Pernah Berdusta.
|
"Lupa, dilupakan dan melupakan itu perihal yang menyakitkan. Namun tulisanmu akan membuat kisahmu tetap ada walaupun hilang dari ingatanmu"
Sabtu, 15 Desember 2012
Jejak Sejarah Orang Ternate
Diposting oleh
Unknown
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar