BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Umat
manusia telah memanfaatkan mikroorganisme sejak lama untuk menghasilkan
produk-produk yang bermanfaat. Misalnya, pada sekitar tahun 6000 SM masyarakat
Sumaria dan Babilonia telah memanfaatka khamir untuk membuat bir, sedangkan
masyarakat mesir pada tahun 4000 SM telah menggunakan khamir untuk mengasamkan
roti. Masyarakan Babilonia juga memiliki pengetahuan untuk mengubah etanol
dalam bir menjadi asam asetat (cuka).
Produk
yang disintesis oleh mikroorganisme menjadi sangat penting. Mikroorganisme
lebih sering digunakan untuk menghasilkan enzim amylase yang digunakan untuk
membuat bir, roti, dan memproduksi textile, serta enzim protease yang digunakan
untuk menggempukkan daging, melunakkan kulit, membuat detergen dan keju.
Mikrobiologi
farmasi modern berkembang setelah perang dunia ke II dengan dimulainya produk
antibiotic. Suplai produk farmasi dunia termasuk antibiotic, steroid, vitamin,
vaksin, asam amino, enzim, dan hormone manusia diproduksi dalam jumlah besar oleh
mikroorganisme.
Amerika serikat mulai berusaha
mati-matian untuk menemukan obat ajaib penisilin.
Adapun bagian-
bagian sel mikroba yang berhubungan dengan farmasi, adalah dinding sel,
membrane sitoplasma, kromosom, ribosom.
B. Tujuan
Untuk menjelaskan dan mengetahui
bagian – bagian sel mikroorganisme yang berhubungan dengan bidang farmasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Bagian-Bagian Sel Mikroba
yang Berhubungan dengan Farmasi
Bagian - bagian sel yang penting
hubungannya dengan farmasi adalah :
1. Dinding
sel
2.
Membrane sitoplasma
3. Kromosom
4. Ribosom
1. Dinding
sel
Selama
tahun-tahun terakhir ini dinding sel mikroorganisme mendapat sorotan
intensif. Alasan utama perhatian ini adalah bahwa dinding sel itu sangat
penting bagi sel mikroorganisme seperti pada bakteri. Dari segi kimia
strukturnya tidak sama dengan struktur yang manapun pada jaringan hewan. Oleh
karena itu dinding sel menjadi sasaran yang jelas bagi sediaan farmasi seperti
beberapa obat untuk menyerang dan membinasakan mikroorganisme (bakteri),
tanpa membahayakan inangnya yang diinfeksi oleh bakteri tersebut. Pada
saat mulai disintesanya dinding sel tersebut inilah kerja obat-obat antibiotika
yang digunakan dalam pengobatan penyakit. Sebagai contoh adalah beberapa
obat seperti golongan dan turunan penisilin.
Perlu diketahui bahwa
fungsi utama dari dinding sel adalah
untuk menyediakan komponen stuktural yang kaku dan kuat yang dapat menahan
tekanan osmosis yang tinggi yang disebabkan oleh kadar bahan ion anorganik
dalam sel. Tanpa dinding sel, dalam kondisi lingkungan yang normal bakteri akan menyerap air dan
pecah. Semua dinding sel bakteri mempunyai komponen stuktural yang sama yang
disebut mukopolisakarida dinding sel, peptidoglikan atau murein. Komponen
inilah yang memberikan kekuatan yang dibutuhkan untuk mempertahankan keutuhan
sel. Peptidoglikan adalah molekul yang sangat besar , molekul tersebut meliput
seluruh sel yang tersusun atas N-Asetil Gluksamin dan asam N-asetil muramat.
a. Fosfomisin
Salah satu langkah pertama dalam
sintesa peptidoglikan adalah produksi karbohidrat unik asam N- asetil muramat.
Langkah tersebut terselesaikan dengan penggabungan secara enzimatik
fosfoenulpirufat dengan N-asetil glukosamin.
Fosfomisin adalah senyawa analog yang
stuktur fosfoenolpirufat dan oleh sebab itu dapat terikat secara tidak terbalik
pada enzim yang mensintesa asam muaramat ,jadi menghalangi pembentukan asam
muramat.
Fosfomisin ini termasuk antibiaotik
yang berspektrum luas, karena bersifat bakteriosida terhadap bakteri gram
positif dan gram negative.
b. Penisilin
Untuk memahami bagaimana penisilin
memberikan efek bakteriosidanya, maka perlu diketahui sintesa peptidoglikan
dari dinding sel bakteri. Seperti telah diketahui bahwa apapun yang menganggu sintesis peptidoglikan akan
melemahkan dinding sel dan menyebabkan membrane sitoplasma merekah dan
menyebabkan terhamburnya isi sel. Sel bakteri mensintesa unit-unit dinding sel
yang tersusun dari satu N-asetil muramat ditambah 10 asam amino yang akan
menyediakan gelang untuk bilah pada bakteri. Unit tersebut kemudian diangkat ke
bagian dinding sel yang sedang tumbuh. Ikatan pembentukannya dihambat oleh
penisilin, sehingga tidak terjadi penyelesaian jembatan pentaglisin antara
polimer-polmer linier N-asetil glukosamin dengan asam N- asetil muramat.
2. Membran
sitoplasma
Membran sitoplasma
terletak di bawah dinding sel dan bersifat rapuh, mempunyai sejumlah
fungsi (1) pada mikroorganisme aerob membran ini berfungsi untuk
mengangkut elektron dan proton yang dibebaskan pada saat terjadinya
reaksi oksidasi dimana bahan makanan di ubah oksigen dalam rangka pembentukan
molekul air dan mengubah energi yang dihasilkan dari oksidasi, menjadi
energi kimia yang dapat digunakan oleh sel, (2) mengandung beberapa enzim yang
diperlukan untuk sintesis dan pengangkutan peptidoglikan, asam teikhoat,
dan komponen membran luar, (3) mengeluarkan enzim hidrolisis ke luar sel, (4)
menjamin pemisahan material nukleus (DNA) ke sel anak pada saat pembelahan sel
dan (5) mengatur pengangkutan sebagian besar senyawa yang memasuki dan
meninggalkan sel.
Membran sitoplasma
mempunyai berat 8-10% dari bobot kering sel. Secara kimia membran sitoplasma
terdiri atas fosolipida (mengandung gliserol, asam lemak dan fosfat) dan
protein yang terpadu di dalamnya. menunjukkan skema model “mozaik cairan”
orientasi fosfolipida, yang di dalamnya terdapat daerah bundar yang merupakan
ujung hidrofil (menyenangi air). Molekul fosfolipida dan garis-garis
bergelombang adalah asam lemak hidrofob (membenci air) internal. Tersebar di
seluruh membran fosfolipida ini adalah protein yang melaksanakan
berbagai pekerjaan pengangkutan dan enzim yang berkaitan dengan membran.
Beberapa antibiotika
mempengaruhi membrane sitoplasma, seperti polimiksin , nistatin dan amtotensin
B.
a. Polomiksin
Polimiksin adalah suatu peptide yang
didalamnya terdapat satu ujung molekul lainnya larut dalam air. Apabila masuk
ke dalam membrane sitoplasma akan menyebabkan gangguan antara lapisan- lapisan
membrane, kalau polimiksin masuk ke dalam sel maka ujung yang larut dalam air
tetap tinggal di luar membrane dan ujung yang larut dalam lemak di daerah dalam
membrane, sehingga menyebabkan gangguan-gangguan antara lapisan –lapisan memran
yang kemungkinan lalu lintas subtansi bebas keluar masuk sel.
b. Nistatin
dan Amfotisia B
Kedua antibiotic ini memiliki struktur
lingkar yang besar. Antibiotica bergabung dengan sterol yang tedapat dalam
membrane sel khusus fungi dengan menimbulkan gannguan dan kebocoran isi
sitoplasma, oleh karena itu antibiotika ini khusus untuk miko plasma dan
infeksi fungi yang mengandung sreroi pada membrane sitoplasmanya.
3. Kromosom
Bagian sel ini juga
merupakan sasaran antibiotika dalam mengganggu kehidupan suatu mikroorganisme.
Di dalam kromosom terdapat DNA yang merupakan informasi genetic suatu
mikroorganisme. Apabila terganggu oleh senyawa – senyawa obat akan mengyebabkan
terjadinya gangguan dari kehidupan mikroorganisme tersebut.
Ada beberapa antibiotika
secara khas bereaksi dengan DNA untuk mencegah replikasi atau transkripsi
dengan jelas akan menghambat pertumbuhan dan pembelahan sel. Pada umumnya
antibiotika yang mangganggu asam nukleat dengan satu diantara dua cara yaitu
interaksi dengan benang-benang heliks ganda DNA dengan cara sedemikia rupa
untuk mencegah transkripsi berikutnya, kombinasi dengan polymerase yang
terlibat dalam biosintesis DNA atau RNA.
Contohnya :
a. Mitomisin
dan Aktinomisin, kedua antibiotika ini terikat pada DNA untuk mencegah
replikasi dan transkripsi. Kedua antibiotika ini digunakan sebagai anti tumor
karena dapat mempengaruhi sel-sel yang membelah dengan cepat seperti pada sel
tumor.
b. Griseofulvin
Griseofulvin digunaan untuk mengobat
infeksi fungi superficial. Cara kerjanya tidak pasti, tetapi telah diperkirakan
antibiotika tersebut menghalangi replikasi DNA.
4. Ribosom
Ribosom adalah bagian dari
sel yang berfungsi sebagai tempat sintesa protein. Setia ribosom terdiri
atas dua subunit yang bebas di dalam sel bakteri, yang satu mengendap pada 30-S
dan lainnya pada 50-S (S = unit Svedberg dan merupakan ukuran kecepatan
partikel dalam medan sentrifugasi). Ada beberapa senyawa obat
(antibiotika) yang dapat mempengaruhi atau berikatan dengan
subunit-subunit tersebut, sehingga pembentukan protein yang fungsional tidak terbentuk
sebagaimana mestinya.
Beberapa contoh obat- obat tersebut
antara lain :
a. Klormfenikol
Antibiotika ini memberikan efek dengan
cara bereaksi pada bagian ribosom 50-S,tempat antibiotika tersebut menghalangi
enzim peptide transferase.
b. Antibiotika
Makrolida
Antibiotika ini mencegah sintesis
protein bereaksi dengan sub unit ribosom 50-S .
c. Tetrasiklin
Antibiotika ini menghambat sintesis
protein dengan terikat pada subunit ribosom 30-S dan dengan demikian mencegah
penempelan asam amino yang membawa tRNA.
d. Streptomisin
Streptomisin merupakan salah satu
antibiotika amiloglukosida, yang memberikan efek bakteriasidanya pada sejumlah
besar mikroorganisme gram positif dan gram negative . streptomisin menyebabkan
berbagai efek yang tidak khas seperti keluarnya kalium dari sela atau terjadi
penggumpalan bakteri.
B. Manfaat
Mikroorganisme Dalam Bidang Farmasi
1. Beberapa
produk farmasi yang dihasilkan bakteri
Produk
|
Bakteri
|
Kegunaan
|
Aseton Butanol
|
Clostridium
acetobutylicum
|
Pelarut, pembuat bahan kimia
|
2,3-Butanediol
|
Bacillus
Polymyxa
|
Pelarut, pelembab, intermediate
kimia
|
Dekstran
|
Leuconostoc
mesenteroides
|
Stabilisator dalam produk pangan,
pengganti plasma darah
|
Sorbose
|
Glukonobacter
suboxydans
|
Pembuatan asam asorbat
|
Kobalamin
|
Streptomyces
alivaceus
|
Pengobatan anemia.
|
Streptokinase
|
Streptococcus
hemooyticus
|
Penggunaan medis (melarutkan gumpalan darah )
|
2. Beberapa
produk farmasi yang dihasilkan kapang
Produk
|
Kapang
|
Kegunaan
|
Asam sitrat
|
Aspergilus
niger atau aspergillus wentii
|
Produk pangan , sitrat untuk obat,
untuk tranfusi darah.
|
Asam glukonat
|
Aspergillus
niger
|
Produk farmasi
|
Asam laktat
|
Rhyzopus
oryzae
|
Bahan makanan dan farmasi
|
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bagian - bagian sel yang penting
hubungannya dengan farmasi adalah :
1. Dinding
sel
Beberapa antibiotic yang mempengaruhi
Dinding sel seperti fosfomisin, dan penicillin
2. Membrane
sitoplasma
Beberapa antibiotika mempengaruhi
membrane sitoplasma, seperti polimiksin , nistatin dan amtotensin B.
3. Kromosom
Beberapa antibiotika mempengaruhi
Kromosom seperti Mitomisin dan Aktinomisin
4. Ribosom
Beberapa antibiotic yang mempengaruhi
ribosom seperti Klormfenikol,
Antibiotika Makrolida, Tetrasiklin, Streptomisin
,
B. Saran
Kami
menyarankan kepada mahasiswa farmasi agar dapat mengetahui bagian – bagian sel
mikroba yang berhubungan dengan farmasi, sehingga dapat diterapkan dalam ilmu
kefarmasian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar