Jalan setapak ini pernah ku lewati dulu saat dimana aku
benar-benar tak menemukan jalan untuk kembali. Saat dimana aku merasa terlalu
lelah untuk melangkah dan kehabisan suara untuk bertanya. Dengan pelan dan
anggun kau menganggukkan kepala seakan mengerti semua yang aku ucapkan, bahkan
aku sendiri tak mendengar apa yang keluar dari mulutku. Yang bisa ku lakukan
hanyalah tetap percaya bahwa hanya kau yang mengerti bahasaku, bahasa yang
bahkan tak ku mengerti namun selalu berhasil membuatku meneteskan air mata
setiap bibirku bergerak. Saat itu kau merangkulku, memelukku dan mengusap air
mata dipipiku. Kau tahu? aku tenang.
Langkah seperti ini yang dulu pernah ku ambil, pelan dan
tak bisa untuk kembali serta tak mungkin untuk berlari kedepan dan mustahil
untuk berhenti. Tanganku kau genggam, eratnyanya gengamanmu membuatku merasa bahwa
aku telah dilindungi oleh berjuta ksatria dengan perisai bajanya. Padahal kau
hanyalah sosok yang tak lebih kuat dariku, kau hanyalah seorang gadis kecil yang
bahkan lebih rapuh dariku, bahkan gengaman tanganmu tak sepenuhnya menggengam
telapak tanganku. Namun genggamanmu erat, sinar matamu mengatakan percayalah
kali ini tak ada yang boleh menyakitiku lagi. Saat itu aku tenang.
Melelahkan disaat raga diterjang ribuan kecemasan, tak ku
kenal kau. Bolehkah ku anggap kau penyelamat? Atau bisakah ku anggap kau
bidadari? Tapi aku lebih ingin menyebutmu cinta pertamaku. Ketika aku terbiasa
berada disampingmu, aku telah menjadi manusia seutuhnya… bukan lagi hanya
sebuah tubuh hidup yang berpakaian. Nafasku tak lagi kosong, bahkan aku pun
telah dibuat mengerti olehmu bahwa sunrise lebih indah daripada sunset.
Perihnya tak tertahankan hingga hari ini, ketika aku
masih menerka-nerka perasaan yang kumiliki namun kau telah hilang. Aku mencarimu,
bohong kalu aku tak tersiksa…, aku mencari sepertimu namun yang aku rindukan
gengaman tangan mungilmu, yang aku rindukan tatapan matamu yang selalu
mengatakan aku aman bersamamu, yang aku rindukan saat kau disampingku aku hanya
memikirkan satu hal “bahwa aku telah dilengkapi olehmu”. Tak ada yang mengerti
ketika aku kembali seperti dulu, mereka menertawaiku ketika aku berbicara dengan
bahasaku. Bahasa yang hanya dimengerti oleh pendengaranmu.
*Muiqal*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar