Senin, 09 Maret 2015

Aku bicara dengan bahasaku

Jalan setapak ini pernah ku lewati dulu saat dimana aku benar-benar tak menemukan jalan untuk kembali. Saat dimana aku merasa terlalu lelah untuk melangkah dan kehabisan suara untuk bertanya. Dengan pelan dan anggun kau menganggukkan kepala seakan mengerti semua yang aku ucapkan, bahkan aku sendiri tak mendengar apa yang keluar dari mulutku. Yang bisa ku lakukan hanyalah tetap percaya bahwa hanya kau yang mengerti bahasaku, bahasa yang bahkan tak ku mengerti namun selalu berhasil membuatku meneteskan air mata setiap bibirku bergerak. Saat itu kau merangkulku, memelukku dan mengusap air mata dipipiku. Kau tahu? aku tenang.

Langkah seperti ini yang dulu pernah ku ambil, pelan dan tak bisa untuk kembali serta tak mungkin untuk berlari kedepan dan mustahil untuk berhenti. Tanganku kau genggam, eratnyanya gengamanmu membuatku merasa bahwa aku telah dilindungi oleh berjuta ksatria dengan perisai bajanya. Padahal kau hanyalah sosok yang tak lebih kuat dariku, kau hanyalah seorang gadis kecil yang bahkan lebih rapuh dariku, bahkan gengaman tanganmu tak sepenuhnya menggengam telapak tanganku. Namun genggamanmu erat, sinar matamu mengatakan percayalah kali ini tak ada yang boleh menyakitiku lagi. Saat itu aku tenang.

Melelahkan disaat raga diterjang ribuan kecemasan, tak ku kenal kau. Bolehkah ku anggap kau penyelamat? Atau bisakah ku anggap kau bidadari? Tapi aku lebih ingin menyebutmu cinta pertamaku. Ketika aku terbiasa berada disampingmu, aku telah menjadi manusia seutuhnya… bukan lagi hanya sebuah tubuh hidup yang berpakaian. Nafasku tak lagi kosong, bahkan aku pun telah dibuat mengerti olehmu bahwa sunrise lebih indah daripada sunset.

Perihnya tak tertahankan hingga hari ini, ketika aku masih menerka-nerka perasaan yang kumiliki namun kau telah hilang. Aku mencarimu, bohong kalu aku tak tersiksa…, aku mencari sepertimu namun yang aku rindukan gengaman tangan mungilmu, yang aku rindukan tatapan matamu yang selalu mengatakan aku aman bersamamu, yang aku rindukan saat kau disampingku aku hanya memikirkan satu hal “bahwa aku telah dilengkapi olehmu”. Tak ada yang mengerti ketika aku kembali seperti dulu, mereka menertawaiku ketika aku berbicara dengan bahasaku. Bahasa yang hanya dimengerti oleh pendengaranmu.

*Muiqal*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar