Kukatakan tenang
saja, perasaan itu telah mati dan pasti kau akan tertawa melihatku yang dengan
polosnya mengucapkan kalimat yang sesungguhnya sudah sangat
menghancurkanku. Dalam perihal luka kau
yang terhebat yang membuatnya dan bahkan akan sangat berbekas, Hingga saat ini
tak tahu apakah sudah sembuh atau belum. Namun selama yang aku jalani bahkan
dalam mencintaimu telah membuatku lupa adanya sosok yang lebih baik darimu, aku
telah dibutakan olehmu. Disaat perasaan yang aku miliki ini semakin
menggebu-gebu, aku dilemahkan oleh kesadaran bahwa telah kehilanganmu.
Kebanggan bagimu
yang telah menancapkan luka ini, yang telah membuatku membunuh perasan ini
dengan paksa dengan segala kelelahan yang telah mengrogoti harapan ini sedikit
demi sedikit. Aku bahkan tak bisa
menghela nafas panjang untuk sekedar melegakan dadaku, semua telah terpenuh
dengan segala kegundahan yang saling beradu. Saat itu keadaan terberatku,
keadaan terperihku dalam menyikapi bahwa aku akan baik-baik saja.
Disaat aku hampir
menjadikan perasaan yang luar biasa ini menjadi biasa-biasa saja kau hadir
lagi, kau memporak-poranda segala kenyamanan dan harapan yang telah ku kubur
hidup-hidup. Jika kau hadir hanya untuk menghilang lagi, tolong jangan kau
hidupkan lagi harapan itu. Kau tak tahu betapa sakitnya aku berjuang tetap
berdiri dengan kaki-kaki rusakku.
Perihal yang sangat
menyakitkan adalah bukan ketika kehilanganmu, tetapi disaat kau telah
menghilang tapi aku masih memiliki rasa yang sama dan utuh. Bukan lah sebuah
perlombaan adu cepat dalam melupakanmu, ini tentang perasaan yang telah lama
aku percayakan pada hatiku agar tetap ada. Namun saat ini telah aku tiadakan
dan jangan lagi membangkitkannya dari ketiadaan ini, karena aku bahkan takan
mampu menjalani kesakitan yang sama berulang-ulang kali.
*Muiqal*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar